Apakah Benar, Kopi Arabika lebih Istimewa dari Robusta?

“Kopi gelombang ketiga”, “Apa? kamu mau jadi yang ketiga? Aku sih jadi yang kedua aja ogah!”

Terminologi Third Waved Coffee kini sering terdengar di banyak kedai kopi sekitar kita, mulai dari coffee shop mewah hingga kedai kopi sederhana sekalipun. Dengan adanya gelombang ini, banyak orang yang penasaran akan asal-usul kopi yang mereka minum; petani yang menanam, kondisi pohon dan kebun, para pekerja pemetik kopi paruh waktu, proses paska panen, siapa yang menyangrai dan bagaimana profil sangrainya, hingga tehnik menyeduh kopi tersebut.

“Sekarang itu zamannya kopi arabika bang, masih aja minum robusta.” ucap adik kelasku di SMA dulu. Kini ia bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta, pulang-pergi naik kereta setiap harinya. Malam ini, malam Minggu, kami bertemu tanpa sengaja, ia dengan pasangannya, sementara aku, sendiri, di pojokan kedai kopi di daerah Bantarjati, Bogor.

Kopi arabika dan kopi robusta merupakan dua jenis utama dari sekian banyak jenis yang ada saat ini, dan keduanya yang paling banyak kita minum sehari-hari. Pada umumnya arabika ditanam di ketinggian 900 mdpl hingga 2000 mdpl, area tanam yang kaya akan nutrisi, terkadang daerah bekas letusan gunung merapi, dengan curah hujan yang merata dan sinar matahari yang cukup. Arabika membutuhkan perhatian khusus karena pohonnya mudah terserang penyakit dan serangga.

Karat daun, jamur yang  terlihat berwarna kuning di dedaunan ini dapat mengganggu proses fotosintesis. Jika tidak ditangani dengan baik, lama kelamaan pohon pun akan mati dengan berjatuhannya daun, karat daun bahkan bisa merusak keseluruhan kebun. Buah kopi arabika juga kerap dijadikan tempat bertelurnya kutu bor, yang mana ketika menetasnya telur, anak-anak kutu itu akan memakan buah yang menyebabkan rendahnya kualitas rasa kopi.

Meskipun dengan segala rintangan yang ada, biji kopi arabika ini menjadi primadona di gelombang kopi ketiga karena aroma yang tidak tajam dan nikmat dibandingkan dengan robusta. Secangkir kopi arabika dapat dibilang memiliki aroma seperti buah-buahan, rerempahan, dll. Tergantung dimana ia tumbuh serta bagaimana proses paska panennya, rasa yang muncul di cangkir bisa jadi manis dan asam.

Berbeda dengan arabika yang memiliki biji yang besar dan oval, biji kopi robusta cenderung kecil dan bulat. Kandungan kafein yang tinggi, mampu membuatnya mengusir para serangga dengan sendirinya. Lebih mudah dan murah untuk ditanam, dan banyak menghasilkan crema, karenanya robusta banyak digunakan untuk espresso sebagai bahan dasar house blend bersama arabika agar mendapatkan harga yang lebih murah.

Meskipun robusta memiliki kualitas yang baik, kopi ini tidak begitu populer saat ini. Bahkan, beberapa penggiat kopi gelombang ketiga enggan untuk meminumnya, mendengar namanya saja mereka jijik walaupun mereka pernah melewati masa mengopi instan, yang menggunakan robusta dengan kualitas yang rendah. Setelah disangrai dan diseduh, robusta disebut-sebut memiliki rasa yang pahit, memiliki bau khasnya yang tajam dengan sedikit bau kayu dan karet.

Belakangan ini, robusta kembali menarik perhatian banyak orang setelah banyak dijauhi oleh para penggiat kopi. Pembelaan datang dari beberapa kedai kopi yang menyediakan robusta dengan kualitas yang baik. Rasa yang tidak enak yang banyak disebut itu merupakan hasil dari petik asalan, bukan hanya buah yang matang saja yang diambil, terkadang buah mentah dan busuk, daun, ranting dan seranggapun terambil. Belum lagi proses paska panen yang seadanya, kombinasi inilah yang membuat robusta memiliki rasa yang kurang diminati.


Sebut saja Rumah Kopi Ranin, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan hati mereka berkolaborasi dengan petani kopi Cibulao-Bogor, mereka hendak membuktikan jika robusta pun memiliki aroma dan rasa yang tidak kalah nikmat dengan arabika. Walau arabika masih menjadi pilihan karena kadar kafein yang dimiliki robusta, setidaknya robusta sudah tidak lagi dipandang sebelah mata.

Share this:

Tentang Warung Kopi Indonesia

Diantara petani dan peminum kopi kami berada, menyangrai serta menyeduhkan hasil tanam petani kopi Indonesia dari daerah asal yang beragam.