Persepsi, Budaya dan Kebiasaan Masyarakat atas Kopi


Skena Kopi
Sebuah Pengantar


"Persepsi, Budaya dan Kebiasaan Masyarakat atas Kopi"

Ditulis oleh: Prasojo dan Renal Rinoza

Apa yang menyamakan antara persepsi, budaya dan kebiasaan masyarakat atas kopi ? jawabannya adab. Mendudukkan persepsi, kedalam budaya lantas menjadi kebiasaan, bukanlah tindakan metodologis. Hal – hal tersebut mengupas tiga hal yang berlatar belakang berbeda dalam praktik yang juga tentu jelas tidak sama. Persepsi diisi oleh dimensi kognisi dan afeksi, sedangkan budaya diisi oleh sebentuk artikulasi keluhuran akan suatu hal, sedangkan kebiasaan acapkali meniadakan kedua hal tersebut, karena lebih mengena kepada dimensi pengulangan atas suatu tindakan.

Lantas apa yang akan diproblematisasi dari ketiga hal tersebut terhadap masyarakat dan kopi? kembali kepada jawaban yang sudah disodorkan pada kalimat pembuka adalah adab. Adab disini merujuk kepada sebuah nilai dan artikulasinya yang mengandung kebaikan dari relasi yang tercipta antara manusia atas kopi. Baik persepsi, budaya dan kebiasaan memiliki dimensi keadabannya masing – masing. Toh selama ini, belum ditemukan sebuah peristiwa yang menunjukkan relasi manusia atas kopi yang didefinisikan sebagai relasi yang tidak beradab ?!. Semuanya berjalan dalam koridor keadabannya masing – masing. Jika dimensi keadaban ini yang dikuliti, maka akan terlihat bahwa dimensi keadaban dari sebuah persepsi, tidak akan sama dengan dimensi keadaban yang dikandung oleh budaya, maupun dimensi keadaban yang melekat kepada kebiasaan masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, para pembicara diminta untuk mendedah dan mengeksplorasi dimensi keadaban yang dimiliki oleh persepsi, budaya maupun kebiasaan. Bisa menguliti ketiganya sekaligus, atau memilih salah dua atau salah satunya.



Namun demikian, dalam kesempatan bincang kopi ini tidak hanya melihat sisi keadaban semata yang seakan berdiri sendiri tetapi juga melihat sisi lainnya akibat implikasi luas dari keadaban itu sendiri. Sebagai bentuk arketipal budaya, apa yang kita sebut budaya meminum kopi adalah tak lain sebagai ritus harian entah ia diletakkan pada ranah sakral ataupun banal sekalipun. Ia telah mengisi dimensi ruang dan waktu. Di sela-sela kesibukan harian, orang tak akan lupa jika tiba waktunya untuk meminum kopi dan terlebih ketika mendapatkan kesempatan waktu luang. Maka tak heran tindakan meminum kopi adalah bagian dari aktivitas pengisi waktu luang (leisure time culture). Tak peduli seberapa sempit waktu luang yang mereka habiskan di rumah, di kedai kopi atau pun mencuri waktu ditengah deru mesin kota, misalnya. Kemudian sebagai ritus harian kebiasaan menimum kopi telah melembaga dalam sebuah ikatan sosial di masyarakat itu sendiri—aktivitas meminum kopi adalah sebuah tindakan kolektif; sebuah prosesi perayaan upacara harian.

Dalam kebiasaan menimum kopi bagi tiap orang memiliki ceritanya sendiri, banyaknya tumpukan kepingan momen dan memori, ingatan tentang ini dan tentang itu. Memori yang tertinggal ini adalah monumen pengingat akan kesejatian citarasa. Kita bisa membayangkan ataupun pernah memiliki kenangan akan seduhan yang khas di kampung-kampung, di pelosok-pelosok negeri. Tak terkecuali, ketika kita berkumpul, nongkrong, berpesta, hajatan dan berbagai macam aktivitas harian lainnya. Citarasa yang tersaji amat lekat dengan dimensi ruang dan waktu. Dari situ persepsi atas citarasa kopi terbentuk beserta pembentukan ruang sosial dan budayanya. Maka tak ayal, di masyarakat kita ditemukan sebuah frasa dan anekdot tentang dimensi ruang dan waktu ini seperti ungkapan ngobrol di warung kopi yang dipopulerkan oleh trio Warkop DKI yang membincang situasi sosial-politik negeri, obrolan warung kopi ini meskipun acapkali sering dilabelkan sebagai obrolan politik yang tidak berkelas atau asal ngecap saja tetapi saat bersamaan obrolan politik di warung kopi memiliki otensitasnya dan ketajaman analisisnya. Obrolan di warung kopi adalah ruang publik ruang di mana terjadi perbincangan, ruang berbagi, ruang wacana untuk merespon hiruk-pikuk dunia politik dan sosial kita disamping membahas hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, berbagai ungkapan lain yang akhir-akhir ini populer seperti woy..ngopi apa ngopi...!, ngopi dulu biar nggak panik!. Ungkapan-ungkapan seperti ini mengindikasikan bahwa budaya minum kopi sudah melekat baik secara inheren maupun eksplisit dalam persepsi dan kebiasaan orang. Bahwa meminum kopi adalah persepsi tentang dunia itu sendiri. Tentunya ini terkait jika kita menaruhnya dalam kerangka keadaban sebagai orang yang berbudaya dan kopi sebagai bagian dari elemen peradaban umat manusia. 

Pada amatan ini kita mencoba untuk mengurai dan mendedah tentang apa dan bagaimana persepsi kita meminum kopi yang tak terlepas dari cara pengolahaan, pemrosesan, teknologi yang digunakan, dan cara penyajiannya. Bagi para petani kopi, misalnya tingkat pengatahuannya bisa ditentukan oleh hal-hal di luar mereka seperti pengetahuan dalam hal meningkatkan kualitas kopi apakah sesuai dengan standar, apakah sesuai dengan kualitas ekspor. Tentunya pengaruh luar ini masuk melalui seperangkat pengetahuan yang pada gilirannya amat mempengaruhi petani dalam menghasilkan kualitas kopi yang ia panen. Pada akhirnya, hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka dalam menghasilkan biji kopi yang berkualitas demi selera penikmat kopi yang amat cerewet soal citarasa.

Lalu dengan begitu muncul pertanyaan yang polos apakah hal demikian dapat dianggap sebagai komodifikasi atau di mana posisi tradisi dengan datangnya berbagai pengetahuan baru dalam meningkatkan kualitas kopi. Komodifikasi dalam hal ini diletakkan pada upaya para pihak untuk dapat menghasilkan kualitas kopi yang bagus tetapi di lain pihak ada tradisi yang sudah well-established dalam mempersepsikan dan membentuk budaya minum kopi. Kita bisa ambil contoh dengan meningkatnya permintaan akan kopi—ini sudah termasuk standarisasi dan citarasa yang sesuai standar, para petani diharuskan meningkatkan pengetahuan mereka mulai dari hulu ke hilir untuk menghasilkan kualitas kopi sementara itu tradisi dalam pengolahan kopi, pemrosesan dan penyajian sudah mengakar kuat di mereka. Kadangkala pengetahuan baru tersebut menganggap rendah tradisi yang sudah ada padahal tidak demikian juga karena budaya kopi di kampung-kampung toh tak seburuk itu bahkan ia memiliki kekhasan dalam pengolahan, pemrosesan dan citarasa. Memang di kampung-kampung cara pengolahan dan pemrosesan seperti saat kopi dipilah-pilah, dijemur, disangrai di wajan dengan api dari tungku, dan dihidangkan seakan nggak nyambung dengan metode pengolahan dan pemrosesan modern yang sudah ada standarisasinya. Dalam beberapa kasus para petani harus dituntut untuk dapat memenuhi standar demikian.

Pada kasus ini apakah ada upaya untuk menjembatani kedua cara yang berbeda tersebut? Bisa jadi upaya tersebut dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan edukasi pascapanen yang baik melalui kegiatan pemberdayaan petani kopi. Hasilnya diharapkan dapat menghasilkan kualitas kopi yang baik sehingga terjadi pertukaran pengetahuan dalam proses pengolahan, pemrosesan dan penyajian kopi yang baik. Kenapa pertukaran pengetahuan dan bukannya transfer pengetahuan? karena dengan adanya pertukaran pengetahuan baik antara pegiat kopi dan petani kopi sama-sama saling belajar dan sama-sama menghargai pengetahuan masing-masing. Tujuannya mungkin untuk tak lain dan tak bukan menghasilkan kualitas kopi yang baik dan meleburkan gap yang selama ini ada. Implikasinya adalah mempengaruhi persepsi orang dalam meminum kopi yang berkualitas meskipun harga kopinya tidak selangit. Bukankah tradisi itu dapat menyerap hal yang baru? Kita semua sepakat kalau tradisi juga bergeraknya dinamis dalam rentang dimensi ruang dan waktunya di setiap kebudayaan manusia. Faktanya, lagipula di kampung-kampung sudah banyak ditemukan metode dan teknik baru dalam pengolahan, pemrosesan hingga kualitas rasa tanpa harus meninggalkan tradisi.

Dalam bincang kopi ini juga akan dikupas perihal selera yang mempengaruhi persepsi tiap orang. Baik orang yang ada di kota maupun di desa. Tentang bagaimana selera orang kampung dan orang kota dalam menikmati kopi. Hal ini bukanlah merentangkan oposisi biner antara kota dan desa yang seolah-olah desa amat ndeso sedangkan kota dianggap maju. Bukan itu yang kita harapkan dari bincang kopi ini melainkan bagaimana mendedah cara dan kebiasaan orang menikmati kopi secara simpatik. Tentunya masing-masing punya gaya dalam menikmati kopi. Pada kebudayaan tertentu cara orang menikmati kopi bermacam-macam seperti ada orang yang sama sekali tidak memakai gula, ada yang mencampurnya dengan gula, ada pula yang mencampurnya dengan gula aren, krim, kayu manis atau rempah. Penyajian kopi pun diberengi dengan sajian-sajian panganan pendukungnya seperti berbagai macam kudapan dan kue. Hal ini tidak mengherankan karena secara tradisional tiap orang dapat mengkombinasikan apa saja untuk menikmati kopi secara terhormat dan sesuai selera masing-masing-terlepas selera tersebut sudah ditentukan oleh tradisi ataupun standar citarasa. Kemudian dalam perkembangannya dewasa ini berbagai macam penyajian seperti espresso, affogatto, cappuccino, caffĂ© lattĂ©, vietnam drip dsb—yang tak terhindarkan pengaruh-pengaruh dari luar yang turut membentuk persepsi kita tentang menikmati kopi.

Di kota sendiri pun tidaklah seragam dan begitu banyak gaya orang meminum kopi. Mulai dari kelas menengah urban yang menikmati kopi di sebuah kedai kopi nan artsy sampai gaya kelas pekerja di dekat-dekat pabrik yang sekadar mengandalkan kopi saset—sialnya kopi saset sering dijadikan bahan bulan-bulanan bagi mereka yang merasa berkelas soal rasa dan merasa punya otoritas dalam tata cara penyajian, misalnya. Pun di kampung-kampung kopi diseduh dengan cara yang khas dan tak terhindarkan bagi kita menemukan sisi puitik nan romantiknya—tentunya bukan bermaksud untuk meromantisasi kekhasan cara menikmati kopi di kampung-kampung tetapi ada kedalaman hakiki yang bisa kita temui saat orang-orang di kampung menyajikan dan menikmati kopi sebagai ritus harian mereka. Sisi puitik pun dapat kita temukan di kota seperti memanfaat waktu yang sempit di kesibukan kota walau kopi yang dinikmati itu berasal dari pedagang asongan namun tetap saja ia bisa dinikmati secara kusyuk karena bagaimanapun persepsi telah membentuk orang dalam meminum kopi sebagai cara melepas kepenatan dan menghadirkan suasana rileks ditengah hantaman rutinitas harian yang keras—ingat ungkapan ngopi dulu biar nggak panik!. Di saat kita menyeruput kopi, ada ruang jeda di pikiran dan perasaan kita. Jika mau disebut, tak berlebihan rasanya ketika kita minum kopi berarti kita sudah bisa melenturkan waktu yang seolah-olah kaku. Dengan demikian, meminum kopi bisa diartikan sebagai undangan untuk menghadirkan kembali sisi kemanusiaan kita. Maka dari itu sudah sepatutnya kita merayakan minum kopi sebagai bagian dari mempraktikkan keadaban kita sebagai manusia yang berbudaya. 

Share this:

Tentang Warung Kopi Indonesia

Diantara petani dan peminum kopi kami berada, menyangrai serta menyeduhkan hasil tanam petani kopi Indonesia dari daerah asal yang beragam.